PSMS Medan Langganan Kartu Merah di Laga Tandang, Eko Purdjianto Beri Peringatan Keras
PSMS Medan menghadapi persoalan serius pada awal kompetisi Championship 2026–2027.
BOLAHITA.ID, MEDAN – PSMS Medan menghadapi persoalan serius pada awal kompetisi Championship 2026–2027. Ayam Kinantan tercatat selalu mendapat kartu merah dalam tiga laga tandang yang telah dijalani. Kondisi ini membuat pelatih Eko Purdjianto memberikan peringatan kepada para pemainnya agar lebih mampu mengendalikan permainan.
PSMS telah melakoni tiga pertandingan tandang musim ini. Namun, dalam setiap laga tersebut, skuad berjuluk Ayam Kinantan harus kehilangan satu pemain akibat kartu merah yang dikeluarkan wasit.
Pada pekan pertama saat menghadapi Sumsel United, penjaga gawang Rudi Nurdin diusir dari lapangan setelah melakukan pelanggaran. Insiden serupa kembali terjadi ketika PSMS melawan FC Adhyaksa Bekasi pada pekan ketiga, dengan Asyraq Gufron menjadi pemain yang menerima kartu merah.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Terbaru, Rizdjar Nurviat juga harus meninggalkan lapangan lebih awal saat PSMS bertandang ke markas PSPS Pekanbaru akhir pekan lalu.
Eko mengaku sudah mengingatkan para pemain sejak insiden kartu merah pertama. Namun, keputusan dan tindakan pemain ketika berada di lapangan tetap menjadi faktor penentu.
"Iya, waktu pertandingan pertama kemarin kena kartu merah kita sudah ingatkan, tapi kan pemain yang bermain di lapangan, kita hanya bisa mengingatkan mereka," ujar Eko, Rabu (14/10/2026).
Main dengan 10 Pemain Jadi Kerugian Besar
Eko menilai bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit memberikan kerugian besar bagi tim. Apalagi, pada pertandingan terakhir melawan PSPS Pekanbaru, PSMS harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-30.
Artinya, Ayam Kinantan harus berjuang selama sekitar satu jam pertandingan dengan jumlah pemain yang tidak seimbang.
"Dan ya terjadi lagi kita main dengan 10 pemain. Apalagi kemarin terakhir kartu merah di menit ke-30, 60 menit kita main dengan 10 orang, itu berat," ucapnya.
Menurut Eko, kartu merah bukan hanya memengaruhi keseimbangan permainan, tetapi juga menguras tenaga dan mengganggu konsentrasi pemain yang masih berada di lapangan.
Padahal, sebelum kehilangan pemain, PSMS mampu menguasai jalannya pertandingan.
"Ya, main 11 lawan 11 itu menguntungkan buat kita. Kemarin sebelum kartu merah kita menguasai pertandingan. Adanya kartu merah membuat pemain juga fokusnya berkurang karena pemain capek juga jumlahnya jadi berkurang," tutur pelatih berusia 50 tahun tersebut.
View this post on Instagram
Eko Minta Pemain Jaga Mental dan Emosi
Menghadapi situasi tersebut, Eko meminta skuadnya menjaga mental dan lebih cermat dalam mengambil keputusan ketika pertandingan berlangsung.
Ia mengingatkan bahwa sejumlah pemain PSMS sudah memiliki pengalaman bermain di level tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Pengalaman tersebut diharapkan bisa membantu mereka menghadapi tekanan tanpa merugikan tim.
Eko menegaskan pihaknya tidak melarang pemain melakukan pelanggaran yang diperlukan dalam permainan. Namun, pemain harus mampu menilai situasi agar tidak kembali menerima kartu merah yang merugikan tim.
"Mental harus dijaga, ada beberapa pemain yang sudah berpengalaman, pernah main di Liga 1 juga. Bukan kita larang mereka buat pelanggaran, tapi ya pemain yang tahu di lapangan, kita hanya berharap tidak ada lagi kartu merah ke depannya," katanya.
PSMS Medan Tantang Semen Padang
PSMS Medan kini harus segera berbenah sebelum melanjutkan perjuangan di Championship 2026–2027. Tantangan berikutnya adalah laga tandang menghadapi Semen Padang pada Sabtu (17/10/2026).
Pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Ayam Kinantan untuk memperbaiki catatan disiplin sekaligus menjaga peluang meraih hasil positif.
Eko tentu berharap anak asuhnya bisa tampil dengan kekuatan penuh hingga peluit akhir. Sebab, kehilangan pemain akibat kartu merah berulang kali berpotensi menyulitkan PSMS dalam persaingan kompetisi musim ini.
What's Your Reaction?