Dualisme
PSMS ada sejak 27 November 2011 lalu, di musim perdana Indonesia Priemer League (IPL). Bermula dari soal legalitas, kerjasama dengan Konsorsium yang tidak menggunakan PT PSMS, melainkan Bintang
Medan Metropolitan hingga sikap Rahudman Haharap (ketum) yang tak tegas. <br><br>Efeknya membuat ke-40 klub anggota
PSMS pun tidak konsisten dalam memberikan suara yang berujung pro dan kontra. Akhirnya dalam sebuah pertemuan, klub-klub tersebut sepakat adanya dua PSMS.<br><br>Kondisi itu dimanfaatkan Freddy Hutabarat yang mendapat kepercayaan menjadi pelopor
PSMS IPL. Ipar kandung ketum PSSI Djohar Arifin melakukan sulap. Empat hari jelang kick off perdana
PSMS di Stadion Teladan, tim
PSMS pun disiapkannya. Hasilnya, tim malah terdegradasi.<br><br>Kini, dualisme kembali berlanjut. Terdegradasinya dan banyaknya sejumlah hutang yang ditinggalkan dianggap sebuah kegagalan oleh klub-klub PSMS. Rapat Umum Luar Biasa (RULB) di Hotel Candi (29/7) pun digelar. <br><br>Hasilnya terpilihnya Indra Sakti Harahap sebagai ketum dengan dukungan 28 suara. Pengurus
PSMS yang merasa belum gagal tak menerima hasil itu. Di dukung oleh wali kota
Medan, Rahudman Harahap, Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) di Hotel Santika pun digelar. Benny H Sihotang juga terpilih dengan dukungan 25 suara.<br><br>Kondisi semakin memburuk ketika suara terpecah dan adanya pengurus yang balik badan ke
PSMS saingan. Kini, bersama Indra Sakti Harahap
PSMS setia akan mengikuti kompetisi di PT Liga Indonesia saja. Sementara itu, versi Benny H Sihotang malah mendaftarkan ke PT LPIS dan PT Liga Indonesia.<br><br>"Bagi Saya dualisme saat ini semakin memburuk dari awal musim lalu. Karena saat ini sudah ada dua ketum. Apalagi juga ada dua liga PSSI dan KPSI yang sama-sama boleh berjalan. Hal ini tentunya semakin menguatkan bahwa dualisme akan tetap ada," kata Rahmad Nur Lubis, pentolan
PSMS Fan Club.<br><br>Bukan bermaksud mengaminkan dualisme PSMS. Jika memang ingin hanya ada satu tim Ayam Kinantan di
Medan, Rahmad mengaku solusi terbaik adalah menghentikan dua PSSI tersebut. <br><br>"Suporter wajar saja bersikap menginginkan satu PSMS. Tapi kita juga harus realistis dengan adanya PSSI dan KPSI, ini secara tidak langsung sudah memberikan tempat berkompetisi bagi dua
PSMS itu. Ya hentikanlah dualisme yang diatas itu, supaya
PSMS satu,"tambahnya.<br><br>Disisi lain, yang kalah penting Rahmad menilai 40 klub anggota
PSMS menjadi yang paling bertanggungjawab lahirnya dualisme. Kucuran dana yang dialirkan kepada mereka menjadi pemicu, adanya surat dukungan kepada dua kepengurusan PSMS. <br><br>"Mereka opportunist dan menjadi yang paling diuntungkan. Bagaimana tidak, banyak klub yang sudah tak jelas, malah memasang dua kaki. Uniknya Indra mendapat 28 suara dan Benny 25, jika ditotal jumlah klub sudah lebih dar 40. Merekalah yang harus bertanggungjawab," sesalnya.<br><br>Kritik keras juga datang kepada Wali Kota
Medan Rahudman Harahap yang dianggap menjadi biang kericuhan PSMS. Apalagi setelah terlaksananya RULB di Candi beberapa bulan lalu. <br><br>"Kalau memang itu tidak sah atau ilegal, kenapa tidak dibubarkan seketika itu. Terus kenapa dari awal IPL lalu dibiarkan oleh Rahudman? Ini tentunya patut dipertanyakan kepada beliau. Pemko harus mengambil sikaplah dalam hal ini, ya sikap yang adil," kata Johan pendukung
PSMS yang selalu hadir di Mess Kebun Bunga.(
Bolahita)<br>